Showing posts with label China Bercerita. Show all posts
Showing posts with label China Bercerita. Show all posts

Tuesday, July 19, 2011

The Three Musketeers!



Yang ini namanya Felisma Choirunnisa, panggilannya Ica. Cantik ya? Anaknya juga pinter banget. Dia mahasiswi jurusan Ekonomi Syariah Islam kelas internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dia bisa 9 bahasa lho, apa nggak keren itu namanya? Eh, mungkin sekarang 10 ya ditambah bahasa Mandarin? (:



Nah, yang ini namanya Fahrizal Ramadhan Basanto, panggilannya Fahri. Dia kakak angkatan saya di Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Bahasa Jepangnya oke banget lho, belajarnya pun otodidak. Salut deh! (:


Kalo yang ini foto saya. Hehehe. Saya mah biasa-biasa saja, jadi tidak perlu diceritakan lagi disini. Saya tidak bisa banyak bahasa seperti Ica dan Fahri, tapi saya mau belajar kok, belajar apa saja. :D

Oh iya! Lihat deh  foto saya dan Fahri di atas. Kan sudah hampir bulan Ramadhan. Jadi ceritanya kami mau buat album religi dan foto di atas sebagai cover-nya. Gimana? :p

Monday, July 18, 2011

I am in China: Why, How, For What, and Then...?

Judulnya kebanyakan pertanyaan ya? Hehe. Intinya saya hanya ingin cerita asal-usul saya bisa ada di China saat ini. Simply, saya dan dua teman saya bernama Ica dan Fahri alhamdulillah mendapat kesempatan belajar Bahasa Mandarin selama 2 semester di SIAS International University, Zhengzhou, Republik Rakyat China. Semua tidak lepas dari dukungan secara moral dan material dari kampus kami : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Saya dan Fahri adalah mahasiswa jurusan Ilmu Hubungan Internasional, sedangkan Ica adalah mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah Islam. Sebelumnya saya sudah mengenal Fahri, karena dia adalah teman dari teman sekaligus kakak senior saya dalam sebuah program pertukaran pelajar yang saya ikuti tahun 2008 lalu. Sedangkan Ica bisa dibilang teman baru saya. Kami bertemu saat tahap wawancara yang merupakan seleksi tahap akhir sebelum akhirnya kami dikirim ke China.

And now here we are! China!

Sunday, July 17, 2011

Hai Pembelajar Sukses!

Sebenarnya posting yang satu ini akan lebih fresh jika saya tulis kemarin-kemarin. Tapi sayangnya atmosfer di kamar saya sedang tidak membuat saya semangat. Tidak perlu lah ditulis disini. Malu euy! :p

Nah, jadi dua pertemuan terakhir latihan menari saya tiba-tiba jadi super asik. Guru saya entah kenapa jadi tidak sekeras biasanya. Yang menarik lagi, waktu istirahat kami kemarin sangat panjang. Malahan si bapak guru itu mengajak kami mengobrol, hmm, lebih tepatnya saya. Beberapa menit pertama saya diminta cerita apa yang berbeda dari China dengan Indonesia. Adik-adik saya itu ikut mendengarkan. Walaupun bahasa Mandarin saya belepotan, tapi insyaAllah mereka mengerti lah. Hehehe. Dia tanya bagaimana perbedaan hidup sehari-hari di China dan Indonesia. Apakah saya sudah terbiasa dengan Chinese foods atau belum. Dan banyak lagi pertanyaan simple namun asik sekali untuk diobrolkan. Nah, waktu adik-adik sibuk sendiri dengan topik yang menurut mereka lebih menarik, si guru mengajak saya ngobrol lebih serius. Apa ituuu?

Tuesday, July 5, 2011

B E L A J A R: Kerasnya Hidup

Pagi itu jam 7 pagi. Saya sudah mendengar hiruk pikuk suara motor-motor pengangkut bahan bangunan, bor listrik yang mendengung, dan tangan-tangan lihai para pekerja bangunan yang dengan penuh semangat mengerjakan pekerjaannya. SIAS secara khusus dan China secara umum memang tidak berhenti membangun. Entah itu bangunan baru atau sekedar memperbaiki yang lama. Itu jam 7 pagi, dan terkadang suara bising pekerjaan konstruksi itu dimulai sebelum pukul 7 dan saat rasa kantukku datang di malam hari, sebagian dari mereka masih bekerja. Terutama di saat semua mahasiswa sedang pulang kampung seperti ini, fenomena bekerja dari pagi hingga pagi lagi amat sering saya lihat. Setiap peluh yang menetes benar-benar menyadarkan saya

Terima Kasih Zhao Yu Fei!

Latihan tari hari kedua ini amat sangat berbeda! Pertama, badan saya alhamdulillah sudah tidak terlalukaget. Yang kedua dan yang paling penting, hmm, sebenarnya ada positif dan negatifnya. Guru tari saya yang hobinya main kaki dan tangan waktu mengajar itu kebetulan kurang enak badan. Beliau demam dan sakit kepala. Makanya hari ini beliau tidak mengenakan kostum mengajarnya, bahkan tidak pakai sepatu khusus menari. Saya terlambat sekitar 5 menit, lalu 5 menit lagi untuk mencari ruangannya. hari ini kami menggunakan ruangan di lantai tiga. saya sempat bingung mencari-cari. karena waktu saya datang, semua ruangan sepi dan terkunci. saya memutuskan untuk turun lagi, meminta seseorang mengantar saya. dan benar, latihan sore ini memang ada di salah satu ruangan yang dikunci dari dalam. saya kurang tau ya, kenapa sih pintunya harus dikunci?

B E L A J A R

Ya! Saya baru saja kembali ke asrama. Jam 8 waktu setempat selesailah sudah latihan perdana saya, belajar tarian tradisional China. di perjalanan pulang saya sempatkan membeli nasi goreng di sebuah warung halal, yang punya orang Uzbekiztan keturunan China, sama sekali tidak ada uzbek-uzbeknya alias China sekali.

Request saya di sanggar ini adalah belajar tari tradisional. Dan benar dugaan saya, teman-teman seperjuangan saya adalah anak-anak kecil, bahkan ada yang masih 5 atau 6 tahun. Saya tetap menikmati kok, walaupun umur saya tidak jauh beda dengan guru mereka -yang juga guru saya-. Pelajaran hari ini belum masuk ke tariannya. baru 'pemanasan', dan pemanasan saja saya sudah agak kelelahan. ya, maklum saja, saya kalah lincah dan kalah 'elastis' dibanding teman-teman kecil saya. sedikit tentang guru saya, dia masih muda, 22 tahun, sekarang mengajar menari di sanggar saya sekaligus berprofesi sebagai guru menyanyi di kampus saya. sangat luwes saat menari tapi tidak melambai kok, jadi terlihat hebat. (tenang Mahar, seleraku tetap orang namburan kok, bukan orang china :p ). nah, dikarenakan hari ini baru pemanasan, latihan berbagai jurus melenturkan badan, saya cukup bekerja keras. badan sudah tak selentur anak umur 5 tahun. sudah lama tidak olah raga dan menari. jadilah saya pemanasan yang paling pas-pasan. guru saya juga tidak masalah, ia lebih concern pada anak-anak lain. sesekali membenarkan saya namun dari jarak tertentu. (kalau berani pegang-pegang saya bisa saya jitak itu guru, hhe). bukan hanya karena saya orang asing, baru, dan hampir seumuran dengan guru saya, tapi dia 'menganak emaskan' saya karena misi saya mau belajar budaya China. asal hafal tariannya, indah dilihat. selesai. tapi anak-anak lain? ada yang dituntut orang tuanya, ada yang sudah tercebur satu kaki, mau tidak mau sudah kepalang basah. jadilah mereka ada disitu. di hari pertama ini saya justru bukan belajar tarian, saya belajar bagaimana anak-anak kecil itu belajar. hmm, mohon digaris bawah deh yang ini : anak-anak China belajar.

awalnya, mereka datang dengan senyuman. tangan ayah ibunya masih erat menggenggam, sesekali membantu mereka membenarkan sepatu balerina atau mengelus kepala tanda memberi semangat. namun saat pintu ditutup dan satu per satu orang tua keluar ruangan,

Cerita dan Rencana

Hari ini 1 July 2011, tepat 3 bulan saya, Ica, dan mas Fahri menjalani kehidupan kami sebagai pembelajar sekaligus perantau di negeri tirai bambu ini. Tidak terasa sudah lumayan banyakpengalaman -manis pahit asem asin- yang kami rasakan. Diawali dengan pengalaman saya kecopetan di hari ke 4 setelah kedatangan kami, Ica yang jatuh di tangga Teater roman, dan Mas Fahri yang di hari pertama sudah 'ditolak' oleh mantan calon roommate-nya dengan alasan kamarnya masih sangat berantakan untuk ditempati 'orang baru', padahal wajahnya sangat kecut dan menyiratkan pesan: "I don't wanna have a roommate, just find another room! " . Moreover, pengalaman sekaligus pelajaran berharga pun tak henti-hentinya mengisi kehidupan kami disini. Kami sudah mulai bersahabat dengan bahasa mandarin, yang awalnya terdengar seperti bahasa planet, kini mau tidak mau harus kami gunakan sehari-hari. Mulai dari beli makan sampai beli obat nyamuk, saking banyaknya nyamuk berkeliaran di summer kali ini. Pujian dari orang sekitar tentang bahasa Mandarin kami sedikit banyak menambah semangat kami untuk terus belajar. Tapi jangan salah, pujian itu sama sekali tidak membuat kami puas. 3 bulan bukanlah waktu yang cukup untuk menguasai bahasa ini. Hurufnya, cara mengucapkannya, mengingat karakternya..sungguh tidak mudah. tapi kami bertiga YAKIN BISA!

Selain mengenyam pendidikan formal di dalam kelas, kami juga belajar tentang kehidupan. Kehidupan sosial masyarakat China yang secara informal kami pelajari dari lingkungan sekitar. Xinzheng bukanlah kota yang besar, malah cenderung sangat kecil dan mencit kalau orang Jawa bilang. tapi sungguh, masyarakatnya ramah. atmosfernya nyaman sekali untuk belajar. memang tidak semua barang yang kita cari dapat kita temukan di Xinzheng, tapi kalau mau belajar yang namanya hidup sederhana dan apa adanya, Xinzheng lah tempatnya. Makanan halal tidak sulit ditemukan, setidaknya kita bisa hidup kalau bisa makan kan?

Kabar-Kabari Kampus: Newsletter #1

Nimen Hao!

Kalimat yang pertama terpikir saat membuat newsletter ini hari ini adalah “I am so grateful with everything I have in my life and especially because my life has been fulfilled of both happiness and difficulties to be learned”. Alhamdulillahirrabbil’alamin. Sudah hampir dua bulan saya menjalani “hidup baru” di negeri tirai bambu. Ya, memang benar pepatah ‘Tuntutlah ilmu sampai negeri China’. Memahami pepatah tersebut tentunya bukan untuk ditelan mentah-mentah, menyiapkan koper dan pergi ke China lalu tidak menghasilkan apa-apa. Justru inilah motivasi yang menurut saya sangat suitable bagi mahasiswa yang berkemauan besar untuk terus belajar. Namun tidak saya pungkiri juga bahwa China memang ‘tempatnya belajar’. SIAS International University yang mana merupakan tempat saya saat ini belajar bahasa Mandarin terletak di sebuah kota kecil bernama Xinzheng, yaitu berada di provinsi Henan, tepat di tengah-tengah negara China. Xinzheng memang tidak semegah Beijing atau semewah Shanghai. Akan tetapi, kalau ingin bertemu dengan orang-orang yang ramah dan mempunyai willingness untuk saling membantu, serta lingkungan yang masih lumayan segar dengan polusi udara yang bisa dibilang rendah, disinilah tempatnya.